Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

belum ada judul

Katanya, saudara lahir dari darah yang sama. Namun semakin dewasa, aku mulai memahami bahwa saudara juga bisa lahir dari perjalanan, dari perjuangan, dan dari orang-orang yang awalnya bahkan tidak kita kenal. Semua bermula pada tanggal 25 September 2025. Hari itu adalah hari pertama kami mengikuti Diklat MAPALA. Aku, Betmen, datang dengan perasaan campur aduk. Di lokasi diklat aku bertemu tiga orang yang belum pernah kukenal sebelumnya: Koro, Suha, dan Lebu. Suha terlihat tenang sejak awal. Cara bicaranya santai seolah ia sudah tahu apa yang akan dihadapi. Tidak jauh berbeda denganku yang pernah mengikuti beberapa kegiatan pendidikan organisasi sebelumnya. Koro memiliki pengalaman dari SISPALA. Ia cukup paham tentang kegiatan alam bebas dan sering memberikan masukan ketika kami kebingungan. Sedangkan Lebu membawa pengalaman dari Pramuka. Ia terbiasa hidup disiplin dan sering menjadi orang pertama yang mengingatkan kami tentang hal-hal kecil yang kadang terlupakan. Saat itu kami belum a...

Transisi

 Kamar kosku masih sama seperti biasanya. AC terus menyala, meja belajar dipenuhi buku, laptop terbuka dengan beberapa file tugas yang belum selesai. Tidak ada yang berubah. Hampir setiap hari aku menjalani rutinitas yang sama. Bangun pagi, mengerjakan revisi, datang ke kampus kalau ada bimbingan, lalu kembali lagi ke kos untuk menyelesaikan tugas berikutnya. Sebagai mahasiswa semester delapan, hidupku terasa lebih teratur dibanding beberapa semester sebelumnya. Aku sudah tahu bagaimana menghadapi dosen pembimbing, tahu kapan harus mulai mengerjakan revisi, dan tahu cara mengatur waktu agar semua pekerjaan selesai tepat waktu. Bahkan, banyak hal yang terasa seperti rutinitas yang terus berulang. Di satu sisi, kondisi seperti ini membuatku merasa nyaman. Aku sudah mengenal lingkungan kampus, tahu tempat makan yang paling murah, tahu jalan tercepat menuju kampus, dan tahu apa yang harus kulakukan setiap hari. Semua terasa aman karena sudah terbiasa. Namun, semakin mendekati akhir mas...

jarak

  Kupejamkan.mata.sejenak, Mengingatmu menjadi satu-satunya pekerjaan yang menyenangkan namun menyakitkan. Kenyataan mengatakan bahwa kita harus terpisah oleh samundra, berdiri di pulau yang berbeda, waktu yang tidak sama, Hanya mampu mengandalkan kepercayaan beserta doa. Jarak telah membuat kita semakin jarang bertemu.  Jarak telah menghadirkan ruang-ruang sepi di dada kita. Kamu dan aku bahkan sering sekali merasa sendiri, sepi saat berada di keramaian, Isi kepalaku Cuma karmu, Sementara tubuhku harus tabah menikmati sepinya hari. Namun, demi semua hal yang sudah kita sepakati Aku pun harus mengerti. Aku harus memperjuangkan semua memilikiku. Aku memilikimu. Kamu memilikiku. Ini bukan rasa putus asa. Namun lelahuya luar biasa. Inginnya menangis meronta- ronta. Ada gumpalan yang menyesakan dada. Benar- benar terasa. Sesak. Sulit mencuri napas. Inginnya berdiam saja, Duduk termerenung sejak dini hingga senja. Mengedipkan malam tanpa bahasa. Diam, tarik hembuskan. Rasanya diamb...

Bertahan Sampai Kehilangan Diri

Memasuki fase di mana aku sudah tidak lagi mengejar, tidak lagi mencari, bahkan tidak terlalu peduli. Aku memilih membiarkanmu sibuk dengan duniamu sendiri. Kalau pesan tidak dibalas, aku tidak lagi marah. Kalau seharian tidak ada kabar, aku juga tidak lagi bertanya-tanya. Mungkin yang paling berubah dari diriku adalah aku sudah berhenti menaruh harapan setinggi dulu. Aku mulai sadar, hubungan tidak selalu hancur karena adanya orang ketiga. Justru sering kali hubungan selesai karena hal-hal kecil yang terus dianggap sepele. Balasan yang semakin singkat, komunikasi yang semakin jarang, rasa tidak dipahami, dan masalah yang selalu ditunda untuk diselesaikan. Hal-hal seperti itu perlahan mengikis rasa yang dulu begitu besar. Dulu aku berpikir tidak apa-apa kalau harus sakit berkali-kali, selama kamu tetap bahagia. Aku rela mengalah, menunggu, dan mencoba memahami semua keadaanmu. Tapi semakin lama aku sadar, yang kulakukan justru seperti melukai diriku sendiri. Aku terus bertahan, sementa...